Penjelasan tentang Arsitektur Rumah Kolonial di Indonesia
Beberapa unggahan video di media sosial seperti Instagram menyebutkan bahwa rumah bergaya kolonial yang ada di Indonesia sebenarnya bukan arsitektur khas Belanda. Dalam video tersebut, disampaikan bahwa orang Belanda awalnya membawa desain rumah Eropa ke Indonesia, tetapi karena tidak cocok dengan iklim tropis, mereka membuat perubahan yang dikenal sebagai Indische Woonhuis.
Namun, apakah benar bahwa rumah peninggalan kolonial di Indonesia bukan berasal dari desain asli Belanda? Untuk menjawab pertanyaan ini, seorang arsitek bernama Ariko Andikabina memberikan penjelasan terkait asal-usul dan perkembangan arsitektur rumah kolonial di Indonesia.
Rumah Kolonial Tetap Berasal dari Desain Khas Belanda
Ariko Andikabina menegaskan bahwa istilah “rumah kolonial di Indonesia bukan desain Belanda asli” bisa menimbulkan kesalahpahaman. Menurutnya, ketika Belanda datang ke Indonesia, mereka membangun rumah dengan arsitektur khas negara asalnya.
Pada masa awal kedatangan Belanda di Batavia, mereka mengadopsi pengetahuan yang mereka miliki dari negeri asalnya, termasuk bentuk bangunan, teknologi konstruksi, bahan bangunan, hingga sistem perkotaan. Bangunan pada masa itu banyak menyerupai bentuk bangunan di Belanda.
Ariko juga menjelaskan bahwa para arsitek saat itu menggunakan teknik yang sudah umum digunakan di Belanda. Salah satunya adalah teknik pasangan basah yang menggunakan batu bata, pasir, dan kapur. Pada masa itu, bahan semen belum tersedia sebagai campuran bangunan.
Ia menekankan bahwa klaim bahwa rumah kolonial bukan asli Belanda dapat menyesatkan. Menurutnya, awalnya mereka meniru bentuk dan teknik dari Belanda, kemudian disesuaikan sesuai dengan kondisi geografis Indonesia.
Adaptasi dengan Iklim Tropis
Lebih lanjut, Ariko menjelaskan bahwa bangunan dengan arsitektur yang diadopsi mentah-mentah dari Belanda tidak cocok dengan iklim tropis di Indonesia. Oleh karena itu, mereka mulai membuat adaptasi bangunan sesuai dengan kondisi iklim setempat.
Adaptasi ini terlihat pada atap tambahan yang dibuat terpisah dari atap utama, beranda rumah yang lebih luas, serta beberapa bagian lain dari rumah. Meskipun begitu, teknik konstruksi yang digunakan masih mirip dengan yang digunakan di Belanda.
Menurut Ariko, batu bata yang digunakan pada masa itu tidak diproduksi secara lokal, melainkan diimpor dari Belanda. Hal ini juga berlaku dalam tata kota, termasuk kavling rumah atau tanah gaya kolonial yang umumnya memanjang ke dalam.
Sistem Tata Kota dan Transportasi
Sistem tata kota yang diterapkan oleh Belanda juga mengacu pada pola yang ada di Belanda. Misalnya, kavling rumah atau tanah memiliki kecenderungan memanjang ke belakang karena pajak tanah pada masa itu tidak berdasarkan luas, melainkan lebar tanah.
Dalam hal transportasi, mereka membuat kanal-kanal di hilir aliran Sungai Ciliwung karena mengadopsi sistem kota dan transportasi yang mengandalkan transportasi air. Namun, perbedaan sifat aliran sungai antara Belanda dan Indonesia, termasuk Sungai Ciliwung yang membawa material sedimen cukup banyak, menyebabkan sering terjadi pendangkalan dan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Sistem kanal ini akhirnya mulai ditinggalkan. Namun, sisanya masih terlihat di area Kalibesar, Tanah Sereal, dan Kota Tua.








