Pengusaha ternama Lo Kheng Hong terlihat kembali memperkuat posisinya sebagai pemegang saham di perusahaan produsen dan penjual ban, PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL). Dalam laporan kepemilikan efek di atas 5% yang dirilis pada 6 April 2026, tercatat bahwa Lo menambah kepemilikan sahamnya sebanyak 410.000 lembar.
Dengan pembelian ini, kepemilikan Lo di saham GJTL meningkat dari 6,30% menjadi 6,31%. Jumlah saham yang dimilikinya juga bertambah dari 219,47 juta menjadi 219,88 juta. Jika mengacu pada harga saham GJTL pada hari itu yang berada di level 1.110 per saham, diperkirakan Lo mengeluarkan dana sebesar Rp 455,10 juta untuk transaksi tersebut.
Di lantai bursa, harga saham GJTL ditutup turun 1,35% atau 15 poin ke level 1.095. Namun, secara year to date (ytd), harga saham GJTL naik sebesar 4,78% atau 50 poin.
Sementara itu, rupiah mengalami pelemahan tajam hingga mencapai level 17.100 per dolar AS, yang merupakan tingkat terendah dalam sejarah. Hal ini memberi dampak signifikan terhadap sektor keuangan dan bisnis di Indonesia.
Selain itu, BUMN Karya menghadapi tantangan berat dalam upaya memulihkan kinerja perusahaan. Proses pemulihan ini dinilai cukup rumit dan membutuhkan strategi yang tepat agar bisa kembali stabil.
Di sisi lain, Emiten Prajogo CDIA melakukan manuver strategis dengan memegang jalur Asia–Eropa melalui kapal Boreas 9.000 DWT. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing perusahaan di pasar internasional.
Dari segi komposisi pemegang saham GJTL, nama Lo Kheng Hong berada di posisi ketiga sebagai pemegang saham terbesar. Pemegang saham terbesar pertama adalah Denham Pte Ltd dengan kepemilikan sebesar 49,5%, diikuti oleh Compagnie Financiere Michelin dengan kepemilikan 10%.
Dalam kinerja keuangan perseroan sepanjang tahun 2025, GJTL berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 1,24 triliun, meningkat 5,08% dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,18 triliun. Meski demikian, penjualan bersih perseroan justru mengalami penurunan menjadi Rp 17,66 triliun dari Rp 18,02 triliun secara year on year (yoy).
Beban pokok pendapatan perseroan juga turun sedikit menjadi Rp 14,11 triliun dari Rp 14,15 triliun secara yoy. Selain itu, perseroan mencatatkan keuntungan kurs mata uang asing – bersih sebesar Rp 96,03 miliar, yang berbeda jauh dari kerugian sebesar Rp 34,79 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Beberapa faktor seperti fluktuasi nilai tukar, perubahan permintaan pasar, serta kondisi ekonomi makro menjadi faktor utama yang memengaruhi kinerja GJTL. Meskipun ada penurunan penjualan, perusahaan tetap mampu menjaga laba bersih dengan efisiensi biaya dan strategi pengelolaan keuangan yang baik.
Kepemilikan saham oleh Lo Kheng Hong menunjukkan keyakinannya terhadap prospek jangka panjang GJTL. Dengan dukungan dari para pemegang saham besar dan kinerja keuangan yang relatif stabil, GJTL diharapkan dapat terus berkembang dan memperkuat posisinya di pasar ban nasional maupun internasional.




